Home » TEMPLATE ERROR: Invalid data reference post.labels: No dictionary named: 'post' in: ['blog', 'skin', 'view'] TEMPLATE ERROR: No dictionary named: 'post' in: ['blog', 'skin', 'view']

Selamat Datang

Semoga Bisa Membantu dan Mohon Kritik dan Saran

Rabu, 13 Oktober 2010

Home » , , » Lingkungan Tidak Sehat

Lingkungan Tidak Sehat

BAB I
(PENDAHULUAN)

1.1 Latar Belakang Masalah

          Dewasa ini perkembangan moderenisasi membuat perubahan dalam berbagai hal baik berjalan kearah positif maupun kearah yang negatif, dalam makalah ini kami dari tim penyusun akan mencoba membahas permasalahan tentang kesehatan lingkungan yang ada di Indonesia yang terus memburuk ditandai dengan tinggi tingkat penyebaran penyakit yang ada di berbagai daerah di tanah air ini, dimana makalah yang kami susun ini berjudul “Lingkungan Sehat dan Tidak Sehat”, hal ini dianggap penting karena kondisi lingkungan yang tidak sehat ini merupakan penyebab terjadinya penyebaran penyakit yang ada diberbagai daerah.
          Dalam makalah ini akan menceritakan berbagai hal tentang kesehatan lingkungan diantaranya akan dibahas tentang pengertian lingkungan, konsep sehat dan sakit, setelah memahami tentang ketiga hal tersebut, pembahasan dilanjutkan dengan memahami tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan, tentunya apabila kita telah mengetahui tujuan kesehatan lingkungan tersebut, haruslah kita mengetahui tentang faktor yang menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan lingkungan di Indonesia yang juga akan menjadi pembahasan pada makalah ini, setelah itu kami membahas tentang hubungannya lingkungan dengan adanya penyakit, dan dalam pembahasan terakhir akan dibahas kesadaran terhadap lingkungan.
          Berbagai persoalan kesehatan lingkugan tersebut yang akan dibahas secara luas dan terarah didalam makalah ini, dan nantinya setelah membaca makalah ini diharapkan bagi para pembaca dapat mengaplikasikan berbagai teori-teori tersebut dalam kehidupannya, agar tercipta kondisi lingkungan yang sehat.

1.2 Tujuan Pembahasan

          Secara umum tujuan pembahsan makalah ini ialah untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi para pembaca terutama mahasiswa fakultas kedoteran UISU yang akan menjadi generasi penerus dokter dimasa mendatang dan akan mengabdikan sepenuhnya jiwa dan raganya kepada seluruh masyarakat demi menjaga kondisi kesehatan masyarakat diberbagai daerah di Indonesia melalui berbagai penyuluhan kesehatan yang akan dilakukannya ketika terjun kesuluruh Puskesmas yang tersebar di seluruh tanah air.
Sedangkan secara detail tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
  • Melengkapi tugas diskusi skenario pertama modul ketiga.
  • Menambah khasanah ilmu pengetahuan dan mahasiswa/i fakultas kedokteran semester satu.
  • Memahami kondisi kesehatan lingkungan yang ada di Indonesia.
  • Mengetahui berbagai cara menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dalam kehidupan agar terhindar dari penyebaran berbagai penyakit.
  • Mendorong nurani sebagai calon dokter untuk menciptakan suatu kondisi yang sehat kepada masyarakat saat dalam rangka pencegahan penyakit secara preventif saat menjadi dokter terutama ketika diterjunkan ke berbagai Puskesmas di Indonesia.
          Itulah merupakan gambaran secara sekilas tentang tujuan dari penyusunan makalah ini, semoga berbagai tujuan yang dicantumkan diatas dapat terealisasi dengan baik pada kehidupan yang sesungguhnya.

1.3 Metode dan Teknik

          Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami menggunakan metode dan teknik secara deskriftif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya setelah itu dianalisis sehinggga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas setelah itu berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.
          Itulah sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Skenario

LINGKUNGAN TIDAK SEHAT

          Ibu Maryam yang tinggal di desa Mandala membawa anaknya yang berumur yang 10 bulan ke Puskesmas dengan keluhan muntah dan mencret, dan anaknya kelihatan sangat lemas. Setiap diberi minum di muntahkan kembali, sang ibu khawatir sekali dengan keadaan anaknya karena tetangganya sudah ada yang meninggal dengan penyakit yang sama. Dari Anamnese dokter diperoleh keterangan bahwa selama ini mereka menggunakan sumur sebagai sumber air dan lingkungan tempat tinggal sering dilanda banjir.



2.3 Learning Objektive

    a. Defenisi lingkungan
    b. Defenisi lingkungan sehat dan tidak sehat
    c. Macam-macam lingkungan
    d. Hubungan lingkungan terhadap adanya penyakit
    e. Kesadaran terhadap lingkungan
    f. Bentuk pencemaran lingkungan
    g. Karakteristik lingkungan sehat dan tidak sehat
    h. Dampak bila tidak peduli terhadap lingkungan
    i. Cara menciptakan lingkungan sehat
    j. Berperilaku hidup sehat

           
          Sebelum kita mengetahui tentang bagaimana lingkungan sehat dan tidak sehat kita harus mengetahui terlebih dahulu defenisi sehat dan sakit.

  2.3.1 DEFENISI SEHAT DAN SAKIT

1. Defenisi Sehat
          
          Defenisi sehat menurut WHO 1947 : Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Meskipun berguna dan tepat, defenisi ini dianggap terlalu ideal dan tidak nyata. Kalau menggunakan defenisi WHO 70-95% orang di dunia sebagai tidak sehat. Mengandung tiga karakteristik :
  1. Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia;
  2. Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal;
  3. Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif;
          Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan proses. Proses disini adalah adaptasi-individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
         
Berarti kesehatan adalah kondisi fisik, mental dan sosial yang sempurna, bukan hanya ketidak hadiran penyakit belaka. Kalau defenisi tersebut dikaji lebih jauh, tidak banyak manusia yang benar-benar sehat. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa semua manusia selalu mempunyai penyakit.
          Defenisi sehat menurut menurut PENDER 1982 : Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
          Definisi sehat PAUNE 1983 : Fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resources) yang menjamin tndakan untuk perawatan diri (self care Aktions) secara adekual. Self care Resources : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Aktions : Perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psicososial dan spiritual.
          Defenisi sehat menurut perseorangan : pengertian sehat menurut perseorangan dan gambaran seseorang tentang sehat sangat bervariasi.
Faktor yang mempengaruhi seseorang tentang sakit :
  • Status perkembangan, kemampuan mengerti tentang keadaan sehat dan kemampuan merespon terhadap perubahan dalam kesehatan dikatakan dengan usia.
  • Pengaruh sosial dan kultural masing-masing kultur punya pandangan tentang sehat dan diturunkan dari orang tua kekanak-kanakan.
  • Pengalaman masa lalu. Seseorang dapat mempertimbangkan adanya rasa nyeri / sakit disfungsi (tidak berfungsi) membantu menentukan defenisi seorang tentang sehat.
  • Harapan seseorang tentang dirinya.
2. Defenisi Sakit

          Secara umum, penyakit dapat diartikan sebagai suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan/atau morfologi suatu organ dan/atau jaringan tubuh manusia. Termasuk di dalamnya kelainan biokimia seperti kelainan enzim, namun pada dasarnya juga akan menimbulkan gangguan fungsi. Tumor atau kangker merupakan manifestasi kelainan morfologi dan fungsi pada tingkat seluler bagian tubuh tertentu.
          Penyakit sebagian besar dikaitkan dengan adanya hubungan interaktif antara kehidupan manusia dengan bahan, kekuatan atau zat yang tidak dikehendaki yang datang dari luar tubuhnya. Kekuatan, zat atau bahan yang masuk kedalam tubuh tersebut bisa merupakan benda hidup atau benda mati. Akibatnya, bisa secara langsung menimbulkan gangguan, atau mengeluarkan bahan racun dalam tubuh manusia, sehingga mengganggu fungsi ataupun bentuk suatu organ.
          Apa yang dimaksud dengan penyakit?. Menurut Cunningham & Saigo (2001), “a disease is a deleterious change in the body is condition in reponse to an environmental factor that could be nutritional, chemical, biological, or psycologycal”. Dengan kata lain, penyakit merupakan perubahan yang memngganggu kondisi tubuh sebagai respon dari faktor lingkungan yang mungkin berupa nutrisi, kimia, biologi atau psikologi.

  2.3.2 MASALAH SEHAT DAN SAKIT

          Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.
          Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being, merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan.
2. Behaviour atau perilaku, antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
          Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien. Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelas-kan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia. Pernyataan tentang pengetahuan ini dalam tradisi klasik Yunani, India, Cina, menunjukkan model keseimbangan (equilibrium model) seseorang dianggap sehat apabila unsur-unsur utama yaitu panas dingin dalam tubuhnya berada dalam keadaan yang seimbang. Unsur-unsur utama ini tercakup dalam konsep tentang humors, ayurveda dosha, yin dan yang. Departemen Kesehatan RI telah mencanangkan kebijakan baru berdasarkan paradigma sehat.

3. Paradigma Sehat

          Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan per-lindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 49 penyembuhan penduduk yang sakit. Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun tetap mengupayakan yang sakit segera sehat.           Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati penyakit. Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi biomedik dan sosio kultural. Dalam bahasa Inggris dikenal kata disease dan illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu dinamakan penyakit.
          Dilihat dari segi sosio kultural terdapat perbedaan besar antara kedua pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu, dengan illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman. Para dokter mendiagnosis dan mengobati disease, sedang-kan pasien mengalami illness yang dapat disebabkan oleh disease illness tidak selalu disertai kelainan organik maupun fungsional tubuh. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka yang membahas pengetahuan sehat-sakit pada aspek sosial budaya dan perilaku manusia; serta khusus pada interaksi antara beberapa aspek ini yang mempunyai pengaruh pada kesehatan dan penyakit. Dalam konteks kultural, apa yang disebut sehat dalam suatu kebudayaan belum tentu disebut sehat pula dalam kebudayaan lain. Di sini tidak dapat diabaikan adanya faktor penilaian atau faktor yang erat hubungannya dengan sistem nilai.

  2.3.3 KONSEP SEHAT-SAKIT

          Masalah sehat/sakit adalah konsep yang sangat subyektif, maka perlu dibedakan antara konsep penyakit (disease) dan konsep sakit (illness)
1) Penyakit (disease), adalah : suatu bentuk reaksi biologis, terhadap suatu organisme, benda asing atau luka.
2) Sakit (illness), penularan seseorang terhadap penyakit tertentu sesuai dengan pengalaman yang dirasakan.

  2.3.4 KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT BUDAYA MASYARAKAT

          Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, sosial dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah seseder-hana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek.
          WHO men-definisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya? Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan di-pandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar. Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit.
          Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu: Naturalistik dan Personalistik. Pe-nyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), ke-biasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Konsep sehat sakit yang dianut pengobat tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan.
          Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Sedang-kan konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).
          Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah-muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak. Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada tanda-tanda di badannya, tetapi bisa diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya lincah, kuat bekerja, suhu badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang, sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit-sakit badan.
          Sudarti (1987) menggambarkan secara deskriptif persepsi masyarakat beberapa daerah di Indonesia mengenai sakit dan penyakit; masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan individu mengalami serangkaian gangguan fisik yang menim-bulkan rasa tidak nyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau "kantong kering" (tidak punya uang). Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :
1. Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia;
2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin;
3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.).
          Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit.

2.3.5 KEJADIAN PENYAKIT

          Penyakit merupakan suatu fenomena kompleks yang berpengaruh negatif terhadap kehidupan manusia. Perilaku dan cara hidup manusia dapat merupakan penyebab bermacam-macam penyakit baik di zaman primitif maupun di masyarakat yang sudah sangat maju peradaban dan kebudayaannya.
          Ditinjau dari segi biologis penyakit merupakan kelainan berbagai organ tubuh manusia, sedangkan dari segi kemasya-rakatan keadaan sakit dianggap sebagai penyimpangan perilaku dari keadaan sosial yang normatif. Penyimpangan itu dapat disebabkan oleh kelainan biomedis organ tubuh atau lingkung-an manusia, tetapi juga dapat disebabkan oleh kelainan emosional dan psikososial individu bersangkutan. Faktor emosional dan psikososial ini pada dasarnya merupakan akibat dari lingkungan hidup atau ekosistem manusia dan adat kebiasaan manusia atau kebudayaan.
          Konsep kejadian penyakit menurut ilmu kesehatan ber-gantung jenis penyakit. Secara umum konsepsi ini ditentukan oleh berbagai faktor antara lain parasit, vektor, manusia dan lingkungannya.
          Para ahli antropologi kesehatan yang dari definisinya dapat disebutkan berorientasi ke ekologi, menaruh perhatian pada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alam-nya, tingkah laku penyakitnya dan cara-cara tingkah laku penyakitnya mempengaruhi evolusi kebudayaannya melalui proses umpan balik (Foster, Anderson, 1978).

  2.3.6 PERILAKU SEHAT DAN PERILAKU SAKIT
          Penelitian-penelitian dan teori-teori yang dikembangkan oleh para antropolog seperti perilaku sehat ( health behavior ), perilaku sakit (illness behavior) perbedaan antara illness dan disease, model penjelasan penyakit (explanatory model), peran dan karir seorang yang sakit (sick role), interaksi dokter- perawat, dokter-pasien, perawat-pasien, penyakit dilihat dari sudut pasien, membuka mata para dokter bahwa kebenaran ilmu kedokteran modern tidak lagi dapat dianggap kebenaran absolut dalam proses penyembuhan.
          Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar mem-peroleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergizi.
          Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Sesuai dengan persepsi tentang sakit dan penyakit maka perilaku sakit dan perilaku sehat pun subyektif sifatnya. Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kreteria medis yang obyektif berdasarkan gejala yang tampak guna mendiagnosis kondisi fisik individu.


2.4 Teori Tentang Lingkungan
  
  2.4.1 Defenisi Lingkungan
          
          Lingkungan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta (1976), adalah berasal dari kata lingkung yaitu sekeliling, sekitar. Lingkungan adalah bulatan yang melingkungi atau melingkari, sekalian yang terlingkung disuatu daerah sekitarnya. Menurut Ensiklopedia umum (1977) lingkungan adalah alam sekitar termasuk orang-orangnya dalam hidup pergaulan yang mempengaruhi manusia sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan dan kebudayaannya.
          Dalam Ensiklopedia Indonesia (1983), lingkungan adalah sesuatu yang ada di luar suatu organisme, meliputi :
  • Lingkungan mati (abiotik), yaitu lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas benda atau faktor alam yang tidak hidup, seperti bahan kimia, suhu, cahaya, gravitasi, atmosfer, dan lainya.
  • Lingkungan hidup (biotik), yaitu lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas organisme hidup, seperti tumbuhan dan manusia.
          Ensiklopedia Amerika (1997), menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor-faktor yang membentuk lingkungan sekitar organisme, terutama komponen-komponen yang mempengaruhi perilaku, reproduksi, dan kelestarian organisme.
          Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik.
          Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dann biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ilmu lingkungan atau ekologi. Ilmu lingkungan adalah cabang dari ilmu biologi.
          Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut “lingkungan hidup”. Misalnya dalam Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, defenisi lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

  2.4.2 Lingkungan Hidup

          Undang-undang R.I. No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 1 ayat (1) menyebutkan :
          “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”.
          Dari pengertian di atas terlihat bahwa lingkungan hidup sangat berperan dalam mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
          Interaksi manusia dengan lingkungan hidup nya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu di lahirkan sampai ia meninggal. Hal ini di sebabkan karena manusia memerkukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsuangan hidupnya. Udara, air, makanan, sandang, papan dan seluruh kebutuhan manusia harus di ambil dari lingkungan hidupnya.

  2.4.3 Lingkungan Sehat

          Dalam indonesia sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong-menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.
          Menurut Notoatmojo (1996), kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Undang-undang RI No.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian faktor penyakit, dan penyehatan atau pengamanan lainnya. Melihat luasnya ruang lingkup kesehatan lingkungan, sangatlah di perlukan adanya multi disiplin kerja agar kegiatannya dapat berjalan dengan baik. Misalnya, untuk pengelolaan kualitas lingkungan air di perlukan tenaga ahli rekayasa di bidang air bersih, ahli kimia, ahli biologi dan senagainya.
          Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Banyak aspek kesejahteraan masnusia di pengaruhi pleh lingkungan, dan banyak penyakit dapat di mulai, di dukung, di topang atau di rangsang oleh faktor-faktor lingkungan.
          Sesuai dengan visi Indonesia sehat 2010, tujuan jangka panjang yang harus di capai oleh setiap wilayah kabupaten di harapkan penduduk hidup dalam lingkungan yang sehat, memiliki perilaku hidup sehat, bebas penularan penyakit, serta akses kepada pelayanan kesehatan secara adiil, merata, dan berkualitas.
          Untuk mengetahui apakah telah terjadi perusakan atau pencemaran lingkungan, indikator yang di gunakan adalah baku mutu lingkungan hidup. Undang-undang RI No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 1 ayat 11 menyebutkan :
          “Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang di tenggang keberadaannya dalam suatu sumberdaya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup”..
          Di Indonesia dikenal adanya baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu udara ambien, baku mutu udara emisi dan baku mutu udara air laut.

  2.4.4 Lingkungan Tidak Sehat

          Lingkungan tidak sehat pada dasarnya merupakan lingkungan yang dapat memberikan efek negatif terhadap kesehatan makhluk hidup pada umumnya, terutama manusia. Lingkungan tidak sehat, faktanya adalah terhadap pencemaran lingkungan.

          1. Pencemaran Lingkungan
          
          Pencemaran lingkungan merupakan satu dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan. Undang-undang RI No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 1 ayat (12) menyebutkan :
          “Pencemaran lingkungan adalah masuk atau di masukkannya makhluk hidup, zat, enegi, atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan akibat kegiatan manusia atau akibat proses alam sehingga kualitas lingkungan menurun sampai ke tingkatan tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya”.
          Contoh, pembuangan limbah industri ke sungai dan laut akan menyebabkan perubahan ekosisitem pada perubahan.
          Makhluk hidup, zat atau energi yang dimasukkan ke dalam lingkungn hidup tersebut biasanya merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan manusia. Sisa tersebut biasanya di sebut limbah. Karena it dapat dikatakan bahwa salah satu penyebab pencemaran lingkungan adalah sebagai akibat adanya limbah yang dibuang ke dalam lingkungan hingga daya dukungnya terlampaui. Pencemaran lingkungan tersebut merupakan sumber penyebab terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat.

          2. Bentuk-Bentuk Pencemaran

          a. Pencemaran Udara

          Udara merupakan zat yang paling penting setelah air dalam memberikan kehidupan di permukaan bumi ini. Selain memberikan oksigen, udara juga berfungsi sebagai alat pengantar suara dan bunyi-bunyian, pendiginan benda-benda panas, dan dapat menjadi media penyebaran penyakit pada manusia.
          Masalah pengotoran udara sudah lama menjadi masalah kesehatan pada masyarakat, terutama di Negara-negara industri yang memiliki banyak pabrik dan kendaraan bermotor, di Indonesia sendiri tingkat pencemaran udara sudah melebihi ambang batas normal terutama di kota-kota besar akibat pembuagan gas kendaraan bermotor. Selain itu, hampir setiap tahun asap tebal meliputi wilayah nusantara bahkan sampai ke Negara tetangga akibat pembakaran hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan.
          Menurut Harssema (1998), pencemaran udara di awali oleh adanya emisi. Emisi dapat d sebabkan proses alam (biogenic emissions) maupun kegiatan manusia (anthropogenic emissions).
          Beberapa jenis pencemaran udara yang paling sering di temukan adalah :
1. Karbon Monoksida (CO)
2. Nitrogen Oksida (NOx)
3. Belerang Oksida (SOx)
4. Volatile Organic Compounds (VOCs)
5. Photochemical Oxidants
6. Partikel

          b. Pencemaran Air

          Salah satu penyebab terjadinya pencemaran air adalah air limbah yang di buang tanpa pengolahan ke dalam suatu badan air. Menurut peraturan pemerintah RI No. 82 tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Air limbah dapat berasal dari rumah tangga (domestic) maupun industri.
          Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting :
1. Tinja (faeces), berpotensi mengandung mikroba patogen
2. Air seni (urine), mengandung Nitrogen dan Posfor, serta kemungkinan kecil mikro-organisme
3. Grey water, merupakan air bekas cucian dapur, mesin cusi dan kamar mandi.
          Air limbah industri umumnya terjadi akibat pemakaian air dalam proses produksi. Di industri, air umumnya memiliki beberapa fungsi berikut:
1. Sebagai air pendingin, untuk memindahkan panas yang terjadi dari proses industri
2. Untuk mentransportasikan produk atau bahan baku
3. Sebagai air proses, misalnya sebagai umpan boiler, padda pabrik minuman, dan sebagainya
4. Untuk mencuci dan membilas produk dan gedung serta instalasi
          Berbeda dengan air limbah rumah tangga, zat-zat yang terkandung di dalam air limbah industri sangat bervariasi sesuai dengan pemakaiannya. Oleh sebab itu, dampak yang diakibatkan juga bervariasi, bergantung pada za-zat yang terkandung di dalamnya.

          c. Pencemaran Tanah

          Biasanya di sebabkan oleh limbah padat, limbah padat merupakan segala sesuatu yang tidak dipakai dan berbentuk padatan atau semi padatan. Beberapa penulis menyebutkan limbah padat dengan istilah sampah, namun dalam makalah ini kata yang di gunakan tetap limbah padat.
          Limbah padat merupakan campuran dari berbagai bahan baik yang tidak berbahaya seperti sisa makanan maupun yang berbahaya seperti limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berasal dari industri. 
          Beberapa jenis limbah padat dapat di lihat pada tabel berikut :
  • Sumber Fasilitas Jenis
  • Domestik
  • Komersial
  • Industri
  • Konstruksi Rumah tangga, apartemen
  • Pertokoan, restoran, hotel, Institusi, dan lain-lain
  • Kilang Minyak, Pabrik, Pertambangan, dan lain-lain
  • Sisa makanan, pembungkus makanan dan lain-lain
  • Kertas, kardus, abu, dan lain-lain
  • Limbah industri, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dan lain-lain
  • Tanah, semen, baja, dan lain-lain

  2.4.5 Macam-macam Lingkungan

          Pada umumnya lingkungan terbagi atas dua yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik.
1. Lingkungan Abiotik,
          Lingkungan abiotik merupakan lingkungan tidak hidup yangg terbagi lagi dalam berbagai sub, lingkungan udara (atmosfer), lingkungan air (hidrosfer), lingkungan tanah, dan sebagainya.
           
          a. Lingkungan udara (atmosfer)
          
          Atmosfer adalah lingkungan udara, yakni, udara yang meliputi planet bumi ini. Atmosfer terdiri atas empat zona dengan perbedaan temperatur yang ekstrim sebagai akibat perbedaan penyerapan sinar matahari pada tiap lapisan tersebut. Zona terdekat dari permukaan bumi di sebut troposphere yang lapisannya setinggi 18 km diatas equator dan 8 km di atas kutub. Temperatur pada puncak troposphere dapat turun sampai dengan -60 C. Komponen gas terbanyak pada zona ini adalah Nitrogen (±78%) dan oksigen (±21%). Di atas throposphere terdapat zona stratosphere yang ketinggiannya sampai kira-kira 50 km. Unsur terpenting pada zona ini adalah uap air dan ozone (O3).
          Ozone melindungi permukaan bumi dari radiasi ultraviolet. Di atas stratosphere terdapat zona Mesosphere yang ketinggiannya kira-kira 80 km. Di atas mesosphere terdapat Thermosphere, wilayah yang kaya dengan ion dan ketinggiannya sampai 1600 km dari permukaan bumi. Pada wilayah ini temperatur sangat tinggi karena adanya energi matahari dan radiasi kosmik.

          b. Lingkungan air (Hidrosfir)
          
          Lingkungan air sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kebutuahan manusia dapat berlangsung hanya bila kebutuhan air secara kualitatif dan kuantitatif dapat dipenuhi. Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan bersirkulasi akibat pengaruh cuaca, sehingga terjadi suatu siklus hidrologi.
          Secara umum, siklus hidroligi bermula dari menguapnya air akibat panas matahari. Uap air ini memasuki atmosfir. Di dalam atmosfir uap ini akan menjadi awan, dan dalam cuaca tertentu dapat mendingin dan menjadi tetesan-tetesan air dan jatuh kembali sebagai hujan. Air hujan ini ada yang mengalir langsung atau meresap ke dalam tanah menjadi air tanah. Air tanah akan timbul ke permukaan sebagai mata air. Air tanah bersama air permukaan menguap kembali menjadi awan, maka siklus hidrologis akan kembali berulang.
          Siklus hidrologi merupakan aspek penting untuk yang mensuplai daerah daratan dengan air. Selain itu juga siklus hidrologismerupakan suatu proses alami untuk membersihkan air dari pencemar, dengan syarat bahwa kualitas udara cukup bersih.
           
          c. Lingkungan Tanah

          Tanah merupakan bagian tertipis dari seluruh lapisan bumi, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan sangat besar. Hubungan antara tanah dan makhluk hidup di atasnya sangat erat. Tanah menyediakan berbagai sumber daya yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain itu, tanah juga merupakan habitat alamiah bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu sudah selayaknya manusia memelihara kualitas tanah agar hidupnya sejahtera.
          Lapisan teratas suatu penampang tanah biasanya mengandung banyak bahan organik dan berwarna gelap karena akumulasi bahan organik. Tetapi jenis dan jumlah zat organik yang ada di dalam tanah sangat tergantung dari suhu, oxygen dan bahan organik disekitarnya. Di daerah tropis, di mana temperatur cukup tinggi, proses penguraian bahan organik dapat berjalan lebih cepat dan apabila garam-garam hasil penguraian ini dapat mudah masuk kelapisan yang lebih dalam, maka tanah di daerah sedemikian menjadi capat tidak subur.
          Kelangsungan hidup manusia diantaranya tergantung dari tanah dan sebaliknya tanah juga membutuhkan perlindungan manusia.
          Kegiatan manusia seperti perusakan hutan, Perladangan berpindah-pindah dan pengendalian lahan secara besar-besaran sangat mempengaruhi kondisi tanah. Disampng itu, tanah yang terkontaminasi dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran air tanah. Bila ini tidak di batasi dapat mengakibatkan kerusakan tanah yang pada akhirnya akan menimbulkan bencana bagi manusia.

  2.4.6 HUBUNGAN LINGKUNGAN TERHADAP ADANYA PENYAKIT

          Penyakit sebagian besar dikaitkan dengan adanya hubungan interaktif antara kehidupan manusia dengan bahan, kekuatan atau zat yang tidak di kehendaki yang datang dari luar tubuhnya. Kekuatan, zat, atau bahan yang masuk ke dalam tubuh tersebut bisa merupakan benda hidup atau benda mati. Akibatnya, bisa secara langsung menimbulkan gangguan, atau mengeluarkan bahan beracun (toxic) dalam tubuh manusia, sehingga mengganggu fungsi atau bentuk suatu organ.
          Bahan, kekuatan, atau zat yang ada dalam tubuh manusia, tentu berasal dari sebuah sumber. Sumber penyakit bisa berasal dari dalam tubuh manusia itu sendiri atau dari luar tubuh manusia. Sumber yang berasal dalam tubuh manusia yang membahayakan dirinya, misalnya radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh manusia, atau bahan gas beracun yang merupakan hasil pembusukan di dalam usus. Sedangkan sumber yang berasal dari luar tubuh, misalnya gas pembusukan sampah, makanan yang membawa racun, virus yang berasal dari hewan atau sesama manusia, dan sebagainya.
          Bahan, kekuatan, atau zat, entah itu mikroba atau benda mati yang beracun pada dasarnya merupakan bagian dari sebuah tatanan kehidupan, tatanan lingkungan, atau tatanan ekosistem. Keberadaan mikroba ataupun parasit merupakan bagian dari sebuah rantai tatanan tersebut. Demikian pula, bahan beracun yang masuk ke dalam tubuh secara sedikit-sedikit yang menimbulkan gangguan kesehatan, merupakan bagian dari tatanan sebuah ekosistem..
          Keberadaan “benda asing” yang tidak di perlukan di dalam tubuh manusia merupakan konsekuensi hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya sebagai bagian dari seebuah tatanan ekosistem.
          Karena adanya hubungan secara timbal balik antara manusia dengan lingkungan dari uraian di atas, maka secara konsep ada disiplin ilmu yang mempelajari tentang itu, yaitu ilmu ekologi.
          Menurut Ernst Haeckel (1869), seorang ahli biologi jerman, menggunakan istilah ekologi yang berasal dari kata yunani yaitu “Oikos” berarti rumah atau tempat untuk hidup. Kata tersebut secara harfiah berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan total antara organisme dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun anorganik.
          Ekosistem merupakan tatanan yang menggambarkan hubungan secara timbal balik dengan suasana saling ketergantungan antara berbagai komponen benda, baik benda mati maupun makhluk hidup dan sebuah ruang.
          Pengertian ekosistem menurut Tansley (1935), unsur-unsur tempat terjadinya hubungan total antara organisme dengan lingkungannya yang bersifat organik dan non organik pada suatu tempat tertentu. Contohnya, ekosistem air tawar, perkotaan dan sebagainya.
          Dalam perspektif ekosistem, masyarakat atau kelompok penduduk yang tinggal dalam suatu ruang dan waktu tertentu merupakan salah satu komponen atau bagian tak terpisahkan dari sebuah ekosisteem dimana penduduk tersebut bertempat tinggal. Sedangkan virus parasit, bakteri juga merupakan bagian dari sebuah tatanan kehidupan atau ekosistem dimana manusia berada di dalamnya. Mereka saling tergantung satu sama lainnya. Parasit malaria seperti plasmodium misalnya, sangat bergantung pada manusia untuk kesinambungan hidupnya. Memang manusia tidak bergantung pada plasmodium, namun dalam satu tatanan tertentu ada spesies lain yang tergantung padanya.
          Timbulnya penyakit pada masyarakat tertentu pada umumnya pada dasarnya merupakan hasil interaksi antar penduduk setempat dengan berbagai komponen di lingkungannya. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat berinteraksi dengan pangan, udara, air serta serangga. Apabila berbagai komponen lingkungan tersebut mengandung bahan berbahaya seperti bahan beracun, ataupun bahan mikroba yang memiliki potensi timbulnya penyakit, maka manusia akan jatuh sakit dan menurunkan kualitas sumber daya manusia.
          Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit sudah sejak lama di perkirakan orang. Sebagai contoh, nama “malaria” yang berarti udara jelek, diberikan pada penyakit yang mempunyai gejala-gejala demam, menggigil, berkeringat, demam lagi, menggigil lagi, dan seterusnya, serta di dapatkannya diantara masyarakat yang bertempat tinggal di rawa-rawa. Udara disekitar rawa-rawa memang tidak segar dan orang saat itu beranggapan bahwa udara itulah yang menyebabkan penyakit tersebut. Sekarang di ketahui bahwa nyamuk yang bersarang di rawa-rawa itulah yang menyebarkan penyakit malaria. Seprang tokoh di dunia kedokteran, Hipokrates (460-377SM), adalah tokoh yang pertama-tamaberpendapat bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan fenomena alam dan lingkungannya. Disinilah pentingnya peran kesehatan lingkungan, yakni mencegah menyebarnya penyakit lewat lingkungan.
          Kesehatan manusia hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan jika manusia tersebut terpapar (exposed) terhadap faktor lingkungan pada tingkat yang tidak dapat di tenggang keberadaanya.
          Kulit merupakan jalur pemaparan yang paling umum dari suatu zat. Begitu memasuki kulit, zat tersebut akan memasuki aliran darah dan terbawa ke seluruh bagian tubuh. Kemampuan suatu zat untuk menembus kulit bergantung pada daya larut zat tersebut dalam lemak. Semakin tinggi daya larut suatu zat dalam lemak, semakin besar kemungkinannya menembus kulit.
          Saluran pernapasan merupakan jalur pemaparan yang paling penting dalam lingkungan industri. Berbagai jenis zat dapat terbawa dalam udara lingkungan kerja. Efek paparan zat melalui saluran pernapasan sangat beragam, tergantung pada knsentrasi dan lamanya pemaparan serta status kesehatan orang yang terpapar.
          Saluran pencernaan merupakan jalur utama masuknya zat-zat yang mengkontaminasi makanan. Zat-zat yang di telan masuk ke tubuh melalui absorpsi di saluran gastrointestinal. Absorpsi zat-zat tersebut dapat berlangsung sepanjang saluran pencernaan.

          a. Patogenesis atau kejadian penyakit

          Telah di sebutkan sebeelumnya bahwa kejadian penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara manusia dan perilakunya serta komponen lingkungan yang memiliki potensi penyakit. Perilaku penduduk di kenal berakar pada budaya. Perilaku penduduk yang merupakan salah satu representasi budaya adalah salah satu variabel kependudukan. Variabel kependudukan lain seperti kepadatan, umur, gender, pendidikan, genetik, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kejadian penyakit pada hakikatnya di pengaruhi oleh variabel “kependudukan” dan variabel “lingkungan”. Dengan kata lain pula, gangguan kesehatan merupakan resultan dari hubungan interaktif antara lingkungan dan variabel kependudukan.
          Patogenesis penyakit dalam perspektif lingkungan dan variabel kependudukan dapat di gambarkan dalam teori simpul (Achmadi, 1987; Achmadi, 1991) berikut :

          b. Teori simpul tentang penyakit

          Berdasarkan gambar skematik di atas, maka maka patogenesis atau proses kejadian penyakit dapat di uraikan dalam 4 simpul, yaitu :
Sampul 1 : Sumber Penyakit
          Sumber penyakit adalah titik mengeluarkan atau mengemisikan agent penyakit. Agent penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan penyakit melalui kontak secara langsung atau melalui media perantara (yang juga komponen lingkungan). Umumnya melalui produk bahan beracun yang di hasilkan ketika berada dalam tubuh, atau secara langsung dapat mencederai sebagian atau seluruh bagian tubuh manusia sehingga menimbulkan gangguan fungsi maupun morfologi (bentuk organ tubuh).

Sampul 2 : Media Transmisi Penyakit
          Mengacu pada gambar skematik di atas, komponen lingkungan yang dapat memindahkan agent penyakit pada hakikatnya hanya ada 5 komponen lingkungan yang lazimkita kenal sebagai media transmisi penyakit, yakni :
1. Udara
2. Air
3. Tanah/pangan
4. Binatang/serangga
5. Manusia/langsung
          Media transmisi tidak akan memiliki potensi penyakit kalau di dalamnya tidak mengandung bibit penyakit atau agent penyakit.

Simpul 3 : Perilaku Pemanjaan (Behavioural Exposure)
          Agent penyakit, dengan atau tanpa menumpang komponen lngkungan lain, masuk ke dalam tubuh melalui satu proses yang kita kenal “hubungan interaktf”.
          Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat di ukur dalam konsep yang disebut sebagai perilaku pemajanan (behavioural exposure) (achmadi,1985). Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit (agent penyakit). Misalnya, jumlah pestisida yang mengenai kulit seorang petani yang sedang menyemprot tanaman padi di sawah, mengonsumsi sejumlah air minum yang mengandung kadmium, atau ukuran man bite hour untuk mengukur frekuensi gigitan nyamuk dan sebagainya, adalah ukuran peilaku pemajanan. Jumlah kontak pada setiap orang berbeda, karena ditentukan oleh perilakunya. Perilaku orang di pengaruhi oleh pendidikan, pengetahuan, tinggi badan, gender, pengalaman, dan lain sebagainya.

Simpul 4 : Kejadian Penyakit
          Kejadian penyakit merupakan outcome hubungan interaktif antara penduduk dengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya gangguan kesehatan. Seseorang dikatakan sakit kalau salah satu maupun bersama mengalami kelainan di bandingkan rata-rata penduduk lainnya. Bisa kelainan bentuk atau kelainan fungsi, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial.

Simpul 5 : Variabel Suprasistem
          Kejadian penyakit itu sendiri masih di pengaruhi oleh kelompok variabel simpul 5, yakni variabel iklim, topogrfi, temporal, dan suprasistem lainnya, yakni keputusan politik berupa kebijakan makro yang bisa mempangaruhi semua simpul.


  2.5 KESADARAN TERHADAP LINGKUNGAN

          2.5.1 Defenisi Kesadaran Terhadap Lingkungan
          
          Menurut Emil Salim (1982), kesadaran lingkungan adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran agar tidak hanya tahu tentang sampah, pencemaran, penghijauan, dan perlindungan satwa langka, tetapi lebih daripada itu semua, membangkitkan kesadaran lingkungan manusia Indonesia khusus nya pemuda masa kini,agar mencintai tanah dan air untukmembangun tanah air indonesia yang adil,makmur,sarta utuh lestari.Selanjut nya dikatakan bahwa sadar linkungan ini mendorong pribadi manusia untuk hidup serasi dengan alam dan dengan begitu menumbuhkan rasa relegi dan gandrum akan kasih Allah S.W.T yang sesungguhnya tertulis melalui alam dan isi bumi ini.
          Daniel Chiras (1985 dan 1991) menyatakan bahwa dasar penyebab kesadaran lingkungan adalah etika lingkungan.Etika lingkungan yang sampai sekarang berlaku adalah etika lingkungan yang di dasarkan pada sistem nilai yang mendudukkan manusia bukan bagian dari alam, tetapi manusia sebagai penakluk dan pengatur alam. Sistem nilai ini timbul dari sifat dasar manusia sebagai makhluk biologis. Setiap makhluk biologis memiliki sifat dasar ” biological imperialism”, sifat yang mau makan untuk hidup bagi diri nya sendiri dan bagi keturunan nya. Sikap bahwa segala-gala nya di bumi ini adalah untuk diri dan keturunan nya, sehingga tumbuh menjadi sikap ”anthtropocentric”, semua nya berpusat pada diri nya sendiri,di dalam pendidikan lingkungan hidup,konsep mental tentang manusia sebagai penakluk alam perlu diubah menjadi manusia sebagai bagian dari alam.
          Menurut Maftuchah yusuf (1991) , tentang manusia lawan alam sebagai pandangan falsapah terhadap hubungan manusia dengan alam perlu diperbaiki.sangat perlu diperkenalkan suatu konsep tentang hubunagn tinbal balik yang harmonis antara manusia dengan alam. Dengan demikian diperlukan sistem etika lingkingan yang dapat berfungsi sebagai pondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Intinya adalah berkenyakinan bahwa persediaan sumber daya alam terbatas,manusia merupakan bagian dari alam,dan tidak superior tehadap alam. Bila etika lingkungan seperti ini di miliki oleh setiap orang maka akan terdapat kesadaran lingkungan,sehingga ada upaya pelestarian lingkingan hidup.

          2.5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kesadaran Lingkungan

a. Faktor Ketidaktahuan 

          Bagaimana dengan kesadaran lingkungan hidup?. Apakah pengetahuan lingkungan dapat menjawab pertanyaan: apakah ketidaktahuan pada lingkungan menyebabkan ketidaksadaran lingkungan hidup?. Berdasarkan penjelasan awal tentang ketidaktahuan yang sama artinya dengan ketidaksadaran, maka pertanyaan diatas dapat dijawab, bahwa memang benar ketidaktahuan kepada lingkungan menyebabkan ketidaksadaran pada lingkungan hidup. Hal ini dapat memberi penjelasan pula bahwa ketidaktahuan pada lingkungan hidup menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan.
UU RI No. 4 tahun 1982 adalah tentang lingkungan hidup, dan sejak itu program lingkungan hidup indonesia berdasarkan wawasan nusantara. Dan pengelolaan lingkungan hidup diarahkan untuk pelestarian kemampuan lingkungan yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Pengetahuan ini sudah ada dan di undangkan puluhan tahun yang lalu sehingga sebenarnya pengetahuan manusia indonesia tentang lingkungan telah ada. Namun, pada kenyataannya kehidupan manusia indonesia cenderung tidak mengetahui lingkungan hidup itu.

b. Faktor Kemiskinan

          Kemiskinan berasal dari kata “miskin” yang diberi awalan “ke” dan akhiran “an”. Dalam kamus Poerwadarminta (1976), pengertian kata “miskin” adalah tidak berharta benda, serba kurang. Sedangkan pengertian “kemiskinan” adalah perihal miskin, kemelaratan, kepapaan. Kemiskinan adalah keadaan ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum. Di dalam buku: Pembangunan desa, C.T. Kurien yang dikutip Robert Chambers (1987), menyatakan bahwa: kemiskinan sebagai keadaan kekurangan, namun bukan hanya itu, kemiskinan adalah kekurangan untuk yang banyak dan kemakmuran untuk yang sedikit. Kemiskinan dianggap sebagai peristiwa sosio-ekonomi dimana sumber daya yang ada digunakan untuk memuaskan keinginan yang sedikit, sedangkan yang banyak tidak dapat memenuhi kebutuhann pokoknya sendiri.
          Pudjiwati Sajogyo (1985) dalam bukunya: sosiologi pembangunan, menyatakkan bahwa: kemiskinan merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas penduduk indonesia, disamping faktor lain, seperti: tingkat produktivitas, pendidikan, kesehatan, dan keadaan sosial ekonomi lainnya. Neolaka, didalam: kertas karya perorangan program pendidikan singkat angkatan XV Lemhannas (2007), menyatakan: kemiskinan adalah keadaan melarat, tidak mempunyai apa-apa (sandang, pangan, papan, apalagi lainnya), tidak berdaya, tidak ada harapan untuk hidup, makan sekali seharipun sulit, tidak memiliki pekerjaan dan tidak berpendidikan.

c. Faktor Kemanusiaan

          Kemanusiaan berasal dari kata dasar manuusia.menurut Kamus Poerwadarminta (1976),manusia adalah makhluk yang berakhal budi,sebagai lawan dari binatang yang tidak berakal.bila ditambah awalan “ ke” dan akhiran “an” menjadi kata “kemanusiaan”,artinya sifat-sifat manusia atau secara manusia.secara normal ahli psikologi menyatakan bahwa manusia mempunyaii kebutuhan-kebutuhan dasar /keinginan—keinginan tertentu.ini semua timbul dari kebutuhan-kebutuhan jasmani dan sosial.sedangkan pengertiaan moral diberikan oleh ALLAH sehingga kita dapat membedakan yang benar dan yang salah.

d. Faktor gaya hidup

          Telah dikatakan bahwa gaya hidup (life style) dapat merusak lingkungan hidup. Ada beberapa gaya hidup dimasyarakat yang dapat memperparah rusaknya lingkungan hidup yaitu:
1. gaya hidup yang menekankan kepada kenikmatan, foya-foya, berpestapora (hedonisme),
2. gaya hidup yang menginginkan materi (materealisme),
3. gaya hidup yang konsumtif (konsumerisme),
4. gaya hidup sekuler atau yang mengutamakan keduniaan atau sekularisme,
5. gaya hidup yang mementingkan diri sendiri (individualisme).

          Beberapa gaya hidup yang dibicarakan ini jelas memberikan kontribusi dalam memperparah krisis lingkungan. oleh karena itu, sekarang dapatlah kita mengevaluasi diri masing-masing, gaya hidup mana yang sekarang kita geluti atau yang kita pegang selama ini?. Dalam keadaan sebagai negara yang berkembang, banyak penduduk yang miskin, keadaan serba kekurangan, sudah tentu hidup kita akan cenderung berupaya untuk meningkatkan taraf hidup. Bila upaya peningkatan taraf hidup sesuai norma yang berlaku, tentu tidak akan menimbulkan persoalan, tetapi apabila dilakukan dengan jalan pintas untuk memperoleh materi sebanyak-banyaknya, seperti misalnya ajakan memanipulasi data Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) untuk menyatakan layaknnya suatu proyek didirikan dengan imbalan uang yang besar, maka sudah tentu akan merusak lingkungan disekitar proyek itu. Gaya hidup sepertii ini, sudah tergolong dalam: sekularisme, materialisme, dan individualisme. Jadi, tampaknya gaya hiidup yang benar adalah gaya hidup yang sesuai hukum dan ajaran agama dari masing-masing pemeluknya. Oleh karena itu untuk peduli / sadar lingkungan, kita hendaknya kembali kepada ajaran agama masing-masing. Marilah kita beriman dan bertakwa sesuai kepercayaan masing-masing. Jika dilakukan maka akan muncul gaya hidup mencintai kepada sesama makhluk hidup, gaya hidup peduli / sadar lingkungan, gaya hidup sederhana / mencukupkan apa yang ada, gaya hidup bersyukur kepada Tuhan yang memberi kemampuan untuk peduli lingkungan dan memberikan segala kebutuhan hidup.

          Dampak bila tidak peduli terhadap lingkungan
- Terdapatnya krisis lingkungan
- Terjadi pencemaran lingkungan
- Timbulnya wabah
- Menurunnnya derajat kesehatan


  2.6 MENCIPTAKAN LINGKUNGAN SEHAT

          Cara menciptakan lingkungan sehat diantaranya :
1. Pengelolan sampah
          Hayalan yang muncul tentang pengelolaan sampah adalah mengenai keindahan yang tampak akibat pengelolaan sampah yang dilaksanakan secara harmonis antara rakyat dan pengelola atau pemerintah secara bersama-sama. Artinya sistem pengelolaan sampah yang telah disepakati pemerintah dan perusahaan pengelola untuk melaksanakan pengelolaan sampah tersebut harus didukung penuh oleh rakyat yang memproduksi sampah. sampah bersifat padat. Sampah ini ada yang mudah membusuk, dan ada pula yang tidak mudah membusuk. Sampah yang mudah membusuk ( garbage) adalah zat organik seperti : sisa daging, sisa sayuran, daun-daunan, sampah kebon dan lainnya. Sampah yang tidak mudah membusuk ( refuse) adalah zat nonorganik seperti: kertas, plastik, logam, karet, abu, gelas, bahan baku bangunan bekas, dan lainnya.
          Kuantitas dan kualitas sampah dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:
1. Faktor penduduk yang jumlahnya bertambah pesat
2. Keadaan sosial ekonomi
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

2. Pengelolaan Limbah Cair
          Limbah adalah hasil sampingan dari proses produksi yang tidak digunakan yang dapat berbentuk: padat, cair, gas, debu, suara, getaran, dan lain-lain yang dapat menimbulkan pencemaran bila tidak dikelola dengan benar (Hendargo, Kamus Istilah Lingkungan, 1994). Limbah cair adalah segala sesuatu yang sifatnya sebagai air, tidak keras dan tidak berupa gas. Limbah cair ini dapat berasal dari industri maupun rumah tangga. Limbah cair yang mengandung senyawa kimia berbahaya dan beracun mempunyai sifat yang berbeda dengan air murni. Limbah cair yang telah tercemar memberikan ciri yang dapat diidentifikasi. Secara visual dapat diketahui dari: kekeruhan, warna air, rasa, bau yang ditimbulkan.
          Pengolahan air limbah bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Secara umum ada dua tahap proses pengolahan limbah cair yang biasa dipergunakan yaitu:
1. Pengolahan primer
  • Equalisasi, maksudnya mengontrol karakteristik limbah cair agak fluktuasi kualitasnya dapat dikurangi.
  • Sedimentasi/pengedapan, maksudnya untuk menghilangkan atau memisahkan padatan tersuspensi dari limbah dengan gaya gravitasi.

2. Pengolahan sekunder
  • Proses aerobik: ada sistem lumpur aktif dan sistem trickling filter.
  • Proses anaerobik: ada sistem Up Flow Anaerobic Sludge Blanked (UASB) dan sistem Fixed Bed Reactor (FBR) selanjutnya dalam pengolahan kita membutuhkan ahli pengolahan limbah cair.

3. Penanganan Bencana Alam
           
          a. Penanganan Gempa Bumi
          Upaya penanggulangan atau penanganan bencana gempa bumi tampaknya tidak banyak yang dapat dilakukan, tetapi beberapa upaya ini dapat dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah, yaitu:
1. Pengadaan alat teknologi canggih yang dapat memberikan informasi dini.
2. Membangun tembok penahan gelombang tsunami untuk mengurangi arus air gelombang.
3. Membuat bukit-bukit yang tinggi minimal 50 meter .
4. Memelihara lingkungan pantai antara lain: hutan dan terumbu karang.

          b. Penanganan Banjir
          Sebenarnya penyebab bencana alam khususnya banjir adalah kita sendiri. Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang upaya pengelolaan Lingkungan Hidup sudah cukup baik. Salah satu upaya adalah pembangunan harus memperhatikan kelestarian lingkungan, mengindahkan daya dukung lingkungan dan mutu lingkungan. Oleh karena itu sangat dibutuhkan peningkatan kesadaran lingkungan setiap individu atau manusia Indonesia.



BAB III
(PENUTUP)

3.1 Kesimpulan

          Dari penyusunan makalah ini ditemukan beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan tujuan pembuatan dan judul dari makalah, berikut merupakan beberapa kesimpulan yang diambil :

          Defenisi sehat menurut WHO 1947 : Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Meskipun berguna dan tepat, defenisi ini dianggap terlalu ideal dan tidak nyata. Kalau menggunakan defenisi WHO 70-95% orang di dunia sebagai tidak sehat. Permasalahan kepadatan penduduk yang terjadi di kota-kota besar harus diatasi dengan baik agar terciptanya lingkungan yang sehat dan tidak timbul berbagai gejala penyakit.
          Secara umum, penyakit dapat diartikan sebagai suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan/atau morfologi suatu organ dan/atau jaringan tubuh manusia. Termasuk di dalamnya kelainan biokimia seperti kelainan enzim, namun pada dasarnya juga akan menimbulkan gangguan fungsi.
          Penyakit merupakan suatu fenomena kompleks yang berpengaruh negatif terhadap kehidupan manusia. Perilaku dan cara hidup manusia dapat merupakan penyebab bermacam-macam penyakit baik di zaman primitif maupun di masyarakat yang sudah sangat maju peradaban dan kebudayaannya.
          Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut “lingkungan hidup”. Misalnya dalam Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, defenisi lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
          Dalam indonesia sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong-menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.
          Penyakit sebagian besar dikaitkan dengan adanya hubungan interaktif antara kehidupan manusia dengan bahan, kekuatan atau zat yang tidak di kehendaki yang datang dari luar tubuhnya. Kekuatan, zat, atau bahan yang masuk ke dalam tubuh tersebut bisa merupakan benda hidup atau benda mati. Akibatnya, bisa secara langsung menimbulkan gangguan, atau mengeluarkan bahan beracun (toxic) dalam tubuh manusia, sehingga mengganggu fungsi atau bentuk suatu organ. Partisipasi masyarakat sangat mendukung agar terciptanya suatu lingkungan yang sehat.
          Pencegahan penyebaran penyakit secara preventif lebih baik agar kesehatan masyarakat dapat terjaga dengan baik.

          Jadi, kesehatan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menciptakan kondisi kesehatan masyarakat yang sehat dan bebas dari berbagai macam penyakit.

1 komentar: